Jumat, 01 Juli 2016

39 minggu

Hai 39 minggu sejak kau lemparkan pujian manis yang entah untuk siapa
Aku tak menyadarinya, bagiku melihatmu bermain disana sudah menyenangkan
Tak peduli dengan siapa , tak ingin tahu juga
Aku menerka gadis manis itulah si empunya kata
Lalu ternyata kau katakan itu untuk babi kecil disudut ruang
Terimakasih atas pengakuanmu
Sudah cukup lama kita sedekat ini
Walau kadang kau menjauh
Kita sperti air ditepi pantai
Kadang surut, kadang pasang
Tak bisa tenang, penuh riak dan ombak yang tak tentu
Semoga Tuhan selalu luruskan niatku
Untuk tetap membuatmu hidup
Untuk tetap membuatmu dicintai
Rasanya sangat sulit membayangkan aku harus berlayar sendiri
Menerjang setiap ombak seorang diri
Tanpa ada tangan yang siap menopang
Atau sekedar genggaman yang selalu menguatkan
Aku sadar kau membuatku lupa, aku adalah pelaut ulung
Terlalu asik terlena dan bergantung padamu
Sungguh memalukan,
Sebagian orang marah melihatku lemah
Aku pun benci
Aku pun kesal
Tapi mereka jelas tak tahu bagaimana huruf itu bisa terangkai menjadi cerita
Mereka tak tahu sulitnya memilih kata demi kata , merangkainya menjadi sebuah kalimat
Mereka hanya membaca cerita yang kasat mata
………………………………..
‘’

………………………………..

Rabu, 08 Juni 2016

Hidup

Orang bilang hidup adalah perjuangan
Sejak kita lahir dan sampai saat ini inilah perjuangan
Benar, Aku setuju
Hidup bagiku adalah perjuangan, berjuang untuk bertahan dan memenangkan setiap tantangan
Lalu berarti kamu tidak pernah gagal? katamu hidup untuk memenangkan
Jelas iya, kita terlahir untuk jadi permenang. Jika belum bisa memenangkan, berarti itu bukanlah akhir.
Kamu hanya sedang berproses, menuju suatu kemenangan.
Jangan menyerah...................
Jangan diam.................
Matilah kau jika diam yang kamu pilih.
Waktu akan menggerusmu dan hidup menjadi hanyalah sekedar hidup
Seperti monyet dihutan sana.

Minggu, 15 Mei 2016

Mengejar Mentari

Berlarilah terus , kejarlah mentari di sana
Langit masih cerah , hanya sesekali mentarimu tertutup awan
Tak uasahlah kau risau, dan jangan lah menangis
Mentarimu akan segera kembali
Aku pun tetap dibelakangmu meski terseok pasir.
Meski harus berlari berlumur air

Tetaplah berbahagia, dan tak usah kau toleh jejak sebelumnya
Percayalah aku masih disana sebagai bayang dirimu.
Seperti mentari yang selalu meninggalkan bayang
Kuharap bahagiamu selalu berada diriku
Jika kau ingin lihat wujudku, mungkin aku sudah lekang bersama peluh.
Karna kau telah berlari terlalu jauh.